Lompat ke isi utama

Berita

Jumat Sehati Bawaslu Kuningan: Dorong ASN Adaptif Jadi Kunci Hadapi Transformasi Digital Pengawasan Pemilu

Jumatsehati-yudo-1

Jumat Sehati Bawaslu Kuningan: Dorong ASN Adaptif Jadi Kunci Hadapi Transformasi Digital Pengawasan Pemilu

Kuningan - Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Kuningan terus mendorong penguatan kapasitas Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui kegiatan rutin Jumat Sehati. Kegiatan kali ini mengangkat pentingnya nilai adaptif dalam menghadapi perkembangan teknologi dan transformasi digital guna mendukung pelaksanaan tugas pengawasan Pemilu yang profesional, efektif, dan responsif terhadap perubahan zaman. (Jumat, 30/10/2026)

Dalam kegiatan tersebut, Muhammad Prayudo Hadi selaku narasumber menyampaikan bahwa nilai adaptif merupakan salah satu komponen penting dalam Core Values ASN BerAKHLAK. Nilai ini menuntut setiap ASN untuk senantiasa belajar, mampu menyesuaikan diri dengan perubahan, bersikap proaktif, serta terus berinovasi dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.

Menurutnya, semangat untuk terus belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan juga sejalan dengan ajaran Islam. Hal tersebut tercermin dalam wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yakni Surah Al-Alaq yang diawali dengan perintah Iqra atau bacalah. Selain itu, kisah Nabi Adam AS dalam Surah Al-Baqarah ayat 31 turut menegaskan pentingnya ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia.

Ia juga mencontohkan tokoh-tokoh Islam, seperti Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Sina, yang menunjukkan bahwa kecintaan terhadap ilmu pengetahuan dapat memberikan kontribusi besar bagi perkembangan peradaban.

Jumatsehati-yudo

“Belajar bukan berarti kita tidak memiliki kemampuan, tetapi merupakan jalan untuk mengembangkan kemampuan yang telah Allah karuniakan kepada kita. Karena itu, sebagai ASN sekaligus seorang Muslim, kita harus memiliki semangat untuk terus belajar dan meningkatkan kapasitas diri,” ungkap Muhammad Prayudo Hadi.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa nilai adaptif memiliki keterkaitan erat dengan transformasi digital di lingkungan Bawaslu. Salah satu upaya yang menjadi perhatian adalah program Balai Data yang sebelumnya disosialisasikan oleh Koordinator Divisi Hukum, Humas, dan Datin Bawaslu Provinsi Jawa Barat, Muamarullah.

Program tersebut diarahkan untuk mendukung pengelolaan dan penghimpunan data hasil pengawasan secara lebih tertib, akurat, dan terintegrasi. Dengan pengelolaan data yang baik, dokumentasi hasil pengawasan diharapkan lebih mudah ditelusuri sekaligus meminimalkan risiko kerusakan maupun kehilangan dokumen.

Selain pengelolaan data, perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan juga menjadi perhatian dalam materi Jumat Sehati. Mengacu pada materi pembelajaran melalui platform Learning Management System (LMS) Bawaslu serta buku Transformasi Pengawasan Pemilu Berbasis AI: Strategi Deteksi Dini Pelanggaran Kampanye dan Politik Uang, disampaikan bahwa pemanfaatan AI menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi pengawasan Pemilu.

Di satu sisi, teknologi AI berpotensi disalahgunakan untuk memproduksi disinformasi, memanipulasi konten melalui teknologi deepfake, hingga mendukung praktik politik uang berbasis digital. Namun, di sisi lain, teknologi tersebut juga berpeluang dimanfaatkan untuk memperkuat deteksi dini terhadap potensi pelanggaran melalui pendekatan Rule-Based Detection, Anomaly Detection, serta analisis jaringan digital.

“Teknologi AI ibarat pisau bermata dua. Jika digunakan tanpa tanggung jawab, teknologi ini dapat menjadi sarana manipulasi dan penyebaran disinformasi. Namun, apabila dimanfaatkan secara tepat, AI juga memiliki potensi besar untuk membantu pengawasan Pemilu, khususnya dalam mendeteksi berbagai potensi pelanggaran di ruang digital,” jelasnya.

Meski demikian, pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pengawasan Pemilu masih memerlukan kajian yang komprehensif agar penerapannya sesuai dengan kebutuhan, ketentuan, dan prinsip pengawasan yang berlaku. Perkembangan teknologi tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi jajaran pengawas Pemilu untuk terus memperbarui pengetahuan dan meningkatkan kompetensi.

Dalam pemaparannya, Muhammad Prayudo Hadi juga menekankan pentingnya keterbukaan dalam menghadapi perubahan kebijakan maupun penerapan sistem kerja berbasis aplikasi. Menurutnya, perbedaan pandangan dan kendala dalam proses penyesuaian merupakan hal yang perlu dihadapi dengan sikap positif serta kemauan untuk terus belajar.

“Jangan sampai perubahan kebijakan atau penggunaan aplikasi baru membuat kita berhenti belajar dan mengeluh. Justru di situlah nilai adaptif harus diterapkan. Kita perlu membuka diri, memahami perubahan, dan terus mengembangkan kemampuan agar pekerjaan dapat dilaksanakan secara lebih efektif,” tambahnya.

Melalui kegiatan Jumat Sehati, Bawaslu Kabupaten Kuningan berharap seluruh jajaran semakin memahami bahwa nilai adaptif tidak hanya menjadi tuntutan profesionalitas ASN, tetapi juga bagian dari upaya meningkatkan kualitas diri dan menjalankan amanah pekerjaan dengan penuh tanggung jawab.

Semangat belajar, berinovasi, dan terbuka terhadap perkembangan teknologi diharapkan dapat terus tumbuh menjadi budaya kerja di lingkungan Bawaslu Kabupaten Kuningan. Dengan demikian, penguatan kapasitas sumber daya manusia dan pemanfaatan teknologi dapat mendukung pelaksanaan pengawasan Pemilu yang semakin profesional, efektif, akuntabel, serta mampu merespons tantangan di era digital.

Foto : Rendi RH/Humas Bawaslu Kuningan

Penulis dan Editor : Y Abdul Rahman dan Rendi RH /Humas Bawaslu Kuningan